|
|
Alamat:
Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38,
Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431)
879790 (Marketing)
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Minahasa Selatan |
04 Februari 2012
|
|
Harga LPG tak
Terkendali, Warga Enggan Beralih
|
Amurang, KOMENTAR
Program pemerintah mengkonversikan penggunaan minyak
tanah ke gas (LPG) tidak berlangsung mulus.
Penggunaan LPG yang digadang lebih hemat dibanding
minyak tanah ternyata tidak terbukti. Dikarenakan
ti-dak ada standar harga baku atau Harga Eceran
Tertinggi (HET), sehingga dipasaran terjadi
fluktuasi.
Saat ini per tabung isi 3 kg dijual dari Rp 20 ribu
sampai 25 ribu dari sebelumnya ha-nya Rp 18 ribu.
Itupun volume isinya diragukan, karena ba-nyak
didapati sudah berku-rang dari seharusnya. “Torang
pernah timbang, berat tabung kosong 5 kg jadi kalau
deng isi total 8 kg. Mar sekarang se-telah torang
timbang sudah di bawah, bahkan ada yang ha-nya 7kg.
lantaran itu kalau sebelumnya torang pakai normal
bisa bertahan 1 minggu lebih, sekarang belum 1
ming-gu sudah habis. Harga le sudah nae jadi Rp 20
ribu sampe Rp 25 ribu,” jerit Ribka warga Pondang.
Sebenarnya menurut Ribka bersama beberapa ibu-ibu
lain yang ikut antro MT, warga sudah mulai
menggunakan LPG. Karena sebelumnya se-telah dihitung
masih lebih murah dan hemat dibanding-kan MT. Namun
lantaran be-lum ada patokan harga, har-ganya juga
ikut-ikut naik se-telah warga banyak yang mencari.
“Sebenarnya apa yang pemerintah pe mau, se-mua yang
torang rasa cuma beking siksa pa torang,” lanjut
Ribka yang ditimpali oleh warga lain.
Karena itu tidak heran warga masih tetap ikut
mengantri MT meski harus berpanas-pa-nas dan harga
yang juga telah dinaikkan melebih HET. Anehnya lagi
kenaikan ini juga difasilitasi oleh peme-rintah
setempat dalam hal ini oleh lurah seperti penuturan
beberapa pangkalan. Aki-batnya warga merasa
diper-mainkan dengan program-program yang ternyata
malah membebani.
“Torang so nintau mo beking apa, gas atau mintak
tanah nda ada benda. Harga yang dinaikkan tanpa ada
kontrol dari pemerintah. Sehingga pedagang dapat
menetapkan harga sesuai keinginan bukan atas dasar
penetapan dari pe-merintah. Jangan hanya membuat
program namun malah tidak dapat mengen-dalikan pada
tingkat opera-sional,” tutur tokoh muda Minsel Henly
Tuerah.(vtr) |
|