|
|
Alamat:
Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38,
Manado
Telp: (0431) 879799
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431)
879790 (Marketing)
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
04 September 2010
|
|
Staf UNHCR turun ke
Manado
Tiga Warga Afganistan Masih Buron |
Manado, KOMENTAR
Tercatat, dari 13 WNA (War-ga Negara Asing)
Afganistan yang kabur dari Rumah De-tensi Imigrasi,
ternyata masih menyisakan tiga WNA Afga-nistan yang
masih buron. Ketiga WNA itu adalah Mu-hammad Naeem,
Juma Khan dan Muhammad Ashraf Hu-saini.
Hal ini dibenarkan Kepala Ru-mah Detensi Imigrasi
Manado Rony Kaseger SH MH yang didampingi Kepala
Tata Usa-ha Muhammad Suma SSos kepada harian ini di
ruang kerjanya, Jumat (03/09) ke-marin.
“10 WNA Afganistan yang ka-bur sudah diamankan di
sini (Rumah Detensi Imigrasi). Ma-sih ada tiga WNA
Afganistan yang masih kabur. Informasi terakhir
mereka masih berada di Kota Manado dan seki-tarnya.
Tapi ada yang katakan sudah berada di Jakarta,”
ujarnya.
Namun demikian, Kaseger mengatakan pihaknya telah
berkoordinasi dengan Polda Sulut bersama jajaran
Polsek se-Sulut untuk melakukan pencarian terhadap
ketiga WNA tersebut. Sejumlah titik telah diblokir
seperti Bandara Sam Ratulangi Manado dan Pela-buhan
Bitung dan Manado. Selain itu, foto ketiga WNA yang
masih kabur itu telah dise-barkan ke sejumlah lokasi
dan pusat perbelanjaan. Bahkan Kaseger mengaku pihak
Mabes Polri dan Direktorat Jendral Imigrasi di
Jakarta telah di-minta untuk memblokir jalur keluar
masuk.
“Bagi masyarakat yang me-ngetahui keberadaan ketiga
WNA ini, agar segera mela-porkan ke pihak berwajib.
Dan kami juga menyurati Kedutaan Afganistan di
Indonesia untuk mengecek kebenaran dari ne-gara Asal
para WNA ini,” pin-tanya.
Sementara menyangkut ka-burnya ke-13 WNA ini,
Kaseger menyatakan pihaknya telah mengirimkan
laporan atensi ke Kantor Wilayah Hukum dan HAM
Sulut, Direktorat Penyidi-kan dan Penindakan
Keimi-grasian Dirjen Imigrasi Jakarta, pihak IOM
(International Orga-nisation for Migran) dan bah-kan
UNHCR (United Nation High Comission for Reffugge).
Sementara mengenai kelalaian petugas, Kaseger
mengaku pihaknya telah melayangkan peringatan keras
kepada para petugas yang menjaga WNA tersebut.
“Sampai saat ini kami masih menungggu petunjuk dari
pihak UNHCR untuk me-ngurus mereka pulang,”
jelas-nya.
Ke-10 WNA yang berhasil di-tangkap adalah Hassan
Raza, Irfan Ali, Sikandar Ali, Ali Haider, Muhammad
Taqi, Mur-taza Jafari, Amir Ahmadi, Ali Reza, Ali
Reza, Murteja Jafari.
Sementara itu, kemarin sore, dua staf UNHCR
masing-ma-sing Andre dari Jakarta dan Nur dari
Makassar tiba di Manado dan langsung me-ngunjungi
para WNA di Rumah Detensi Imigrasi. Sayangnya,
keduanya enggan memberikan penjelasan. Namun menurut
Kaseger, keduanya datang ke Manado selain untuk
menemui para WNA, juga untuk mengu-rus kepulangan
dari ke-13 WNA yang kabur tersebut. “Be-sok Hari
ini, red) keduanya akan berbicara langsung de-ngan
para WNA tersebut,” tandasnya.
Pada bagian lain dikatakan Kaseger yang saat itu
didam-pingi Kepala Tata Usaha Mu-hammad Suma SSos,
ke-13 WNA tersebut ingin sekali keluar dari Rumah
Detensi Imigrasi. Namun mereka tidak ingin kembali
ke negara asal-nya karena takut dibantai tentara
Taliban.
“Kan mereka kabur dari ne-garanya karena takut
dibantai. Keluarga mereka banyak yang sudah
dibantai, sehingga me-reka tidak mau menjadi korban
ketika pulang ke negaranya,” ujarnya.
Karena itu, jelasnya, mereka memilih negara ketiga
yakni Australia untuk menjadi tem-pat kediamannya.
Pasalnya, Australia merupakan negara yang menurut
mereka paling nyaman untuk didiami.
“Persoalannya pihak Aus-tralia menolak menerima
me-reka. Sehingga akhirnya me-reka dititipkan di
sini. Tapi mereka tidak diperlakukan sebagai seorang
tahanan politik atau tahanan kriminal tapi hanya
sebagai pengungsi,” jelasnya.
Menariknya, Kaseger dan Suma mengaku bahwa para WNA
ini memiliki uang yang banyak dan jaringan yang
luas. “Waktu ke-10 WNA itu disita dompetnya banyak
sekali uang yang mereka miliki. Ada yang sampai
ratusan juta. Dan dengan uang yang banyak itu mereka
memeiliki jaringan yang luas dan banyak agen,
termask di Manado. Mereka dengan mudah membayar
siapapun untuk memuluskan keinginan mereka. Bahkan
petugas kami hendak mereka suap dengan uang Rp 15
ju-taan agar mereka boleh kabur dari sini (Rumah
Detensi Imi-grasi) namun kami tolak. Bah-kan pernah
ada beberapa mobil datang ke sini yang ternyata
adalah agen mereka yang sudah mereka bayar.
Selain itu, lanjutnya, hand-phone para WNA ini pun
disita satu per satu dan akan di-kembalikan jika
mereka dipu-langkan ke negaranya.(imo)
|
|